Black Gei$ha

" Benci dosa tapi cintai pendosa .... elefyu all "

Wednesday, June 25, 2008

My Sun

Pacul
Kugenggam erat
Kuayun
Ingin kugali dalam dalam
Agar aku bias masuk
Kusumpahi tanah berbukit
Yang tidak juga mau terima tubuhku
Untuk ikut temani kamu!

Untouchable Sun...


Erict Ludiraka Rayung Agni Wish Esa

Syair Benci




Mestinya kamu nggak usah dating lagi padaku
Dengan tangan terentang
Berapa kali sudah aku peringatkan
Jangan lagi kau kirimkan kesetiaan
Aku sudah jenuh dengan berjuta juta kasih yang kau miliki
Aku sudah bosan dengan senyummu yang bagai kembang
Api yang menyala nyala di cakrawala
Engkau tau siapa aku
Sudah tersebar kisahku
Kisah kisah racunku yang tak henti mengalir
Lewat bahasa ngilu kuterjemahkan hatimu
Kedalam hatiku
Pun aku tak perduli meskipun engkau menemuiku
Mengembek embek bagai kambing
Atau bunuh diri dihadapanku sekalipun
Aku tetap masa bodoh
Maaf…
Aku mau pergi
Dan bersiapkah engkau untuk sengsara!

Wednesday, April 23, 2008

Kisah Aku


cinta seperti apa yg kau minta,
mengapa harus aku yg selalu tersiksa

inginku cinta bukanlah duka

ini kisah tentang aku
yang cintanya kandas slalu

kepada para pencinta dengar laguku


apa ku tak pantas dicinta

apakah diri ini tak layak mencinta

apakah memang tak ada cinta untuk diriku ini


perjalanan cinta ini akan terus kulewati

duhai kau para pecinta
dengarkan aku


menyebalkan

menyedihkan

menyenangkan


biarkanlah...

kisah ini hanya untuk aku

Wednesday, February 20, 2008

test

Thursday, February 08, 2007

Dear Bie…

Dear Bie…
Malam ini tiba tiba saja aku ingat kamu.
Ingat kebersamaan kita. Ingat hari ari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu. Seperti apapun keadaannya. Aku tak bisas menepis segalanya begitu saja. Masih selalu ada yang tertinggal disini. Semuanya masih bermuara padamu. Dan kau tahu, kadang kala, kalau kerinduanku begitu menyiksa, ingin kuangkat telpon dan mendengar suaramu. Cuma masalah kecil bukan? Tapi tetap saja tak bisa kulakukan. Kubiarkan perasaanku ini menggerogoti hatiku. Membuatku hanya bisa terduduk menangis bila mengingatmu. Rasanya baru kemarin semuanya itu terjadi. Baru kemarin kurasakan kehangatanmu. Dan melupakanmu adalah satu satunya yang tak bisa kulakukan selama hidupku. Hal tersulit yang kutahu akan selalu menjadi bagian dalam diriku. Kemanapun akupergi, pasti akan ada kamu, mengisinya, mengikutiku, sesak sekali...

Bie sayang...
Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan perasaan kita. Mungkin kita tak akan berpisah seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. Banyak sekali kata andai berkelebat dan tinggal didalam kepalaku. Tapi tak satupun bisa menguak tirai diantara kita. Yang terjadi malah sebaliknya. Semakin tak terkendali. Menyakiti tanpa henti.

Mengapa membiarkan ini terjadi Bie?
Mengapa tak percaya padaku? Mengapa membiarkan aku disisimu, tanpa kata? Membiarkan aku menunggu. Membuatku tanpa sadar membangun ‘tembok tinggi’ agar tak seorangpun mengetuk pintu hatiku. Menutup rapat rapat hanya untuk menjaga perasaanmu. Hanya untukmu. Tak kubiarkan siapapun masuk. Andai saja kau mengerti.

Kadang kadang... ingin sekali bertanya. Seperti apa aku dihatimu? Berartikah aku untukmu? Pentingkah kehadiranku? Apa arti kebersamaan kita Bie? Kedekatan kita? Tapi setiap tanya itu melintas, denga segera semuanya kutepis. Bukan tak siap dengan jawabanmu, tapi...
Ah, mungkin seperti yang kukatakan dulu Bie... terlalu banyak perasaan yang mesti kujaga. Dan kadang, itu tanpa memikirkan perasaanku sendiri. Ingin semuanya kupenuhi. Kuturuti apapun yang mereka katakan. Tentangmu. Tentang kita. Tentang kemungkinan kemungkinan yang terjadi. Membuatku letih sendirian. Memendam segalanya. Membuatku kebingungan mengambil langkah. Hingga kadang pusaran kepala tak hentinya bertanya, "ada apa dengan kita Bie?"

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kita, Bie ?

Aku kadang letih mendengar semuanya. Ingin kukatakan padamu tentang ini. Tapi tak sanggup menatap rasa sedih, yang meski kau sembunyikan didepanku, terpancar jelas dimatamu. Aku tak mau melihatmu seperti itu.

Terlalu banyak warna kau beri. Menyadarkanku bahwa tidak hanya hitam dan putih. Mengisi setiap detik hidupku.

Kau begitu berarti, Bie...
Begitu penting di kehidupanku, hingga aku tak tau lagi, bagaimana kujalani hari, setelah segalanya terjadi? Setelah semuanya tak bisa lagi kita perbaiki. Kulewatkan semua kenangan tanpamu disisiku. Mencurahkan seluruh rasa tanpamu disampingku. Aku ingin sekali bisa seperti dulu. Mengandalkanmu. Membiarkanmu menjaga dan melindungiku. Seperti janjimu dulu. Masih ingat? Membiarkan kita saling menyayangi. Membiarkan setiap rasa mengalir seperti air. Tanpa paksaan. Bergelayut manja padamu. Tau bahwa aku tak akan sendiri. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi... Aku tau, bahwa kau akan selalu ada. Aku rindu semuanya.

Saat seperti ini... Ketika bayangmu kembali datang, Cuma rasa hampa yang kudapat.

Aku kesepian, Bie...

Kalau saja kau ada disini. Kalau saja bisa kuperbaiki semuanya. Hingga tak perlu ada ‘benang’ yang melilit sekujur tubuhku. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan dan tak bisa kuelakkan. Dan mengapa baru kusadari, kalau jauh darimu seperti ada sesuatu yang hilang? Ada yang tertinggal dan tak bisa ku...

Ah, siapa yang salah Bie?
Mungkin tanya seperti ini, sampai kapanpun tak akan pernah terjawab. Menggantung tak jelas. Seperti yang kau inginkan, kan?

Aku sayang kamu Bie...

Dan itu tak mungkin kuingkari. Tulus dari dasar hatiku. Kau tau... Ingin sekali aku bisa jujur padamu. Mengatakan apa yang kurasakan. Tapi itu semua mungkin tak akan pernah berpengaruh apapun. Tak bisa mengurai benang kusut yang kulakukan. Menjauh darimu. Mati matian tak peduli padamu. Acuh dan tak memperhatikanmu lagi. Berusaha sekuat tenaga tak melihatmu. Itu semua menyakitkan Bie. Membuatku sedih. Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang dapat kulakukan. Bahkan kubiarkan kau mengira, bahwa memang itulah yang kuinginkan. Membiarkan kau berpikir bahwa aku membencimu.

Ah... Aku bodoh ya, Bie?
Kubiarkan kau menduganya. Sedikitpun tak berusaha kusangkal. Maafkan aku... Andai masih bisa kukatakan kepadamu.

Dan sekarang...
Kalau suatu hari nanti kau bisa melihat segala yang sengaja aku lakukan. Mungkin kita sudah terlambat, Bie... Meski kutunggu kau yang merubahnya. Aku tak pernah ingin berharap lagi. Semuanya ingin kulupakan. Berusaha kukubur dalam dalam. Bukan ingin berlalu, tak mengingatmu sama sekali.tapi Cuma ini jalan terbaik. Untukku. Untukmu. Untuk kita. Segalanya kini sudah kupasrahkan. Sudah kurelakan, meski rasa sakit tak bisa kutepis. Bagaimanapun tak pernah kuinginkan kalau akhirnya seperti ini. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku. Orang pertama yang kucintai sepenuh hati. Yang pernah kuijinkan jadi yang pertama dan terakhir. Cowok pertama yang kuijinkan mengetuk pintu hatiku. Memasuki seluruh cinta yang selalu kusimpan rapat untuk sosok dalam mimpiku. Semuanya akan kukenang, Bie... Hari hari termanis yang kau beri sepanjang kita bersama. Moment terindah yang kau hadirkan untukku. Terima kasih... Untuk segalanya. Mungkin itu yang belum sempat kuucapkan. Karena membuatku bahagia meski sesaat.

Suatu hari nanti aku pasti kembali.
Berdiri didepanmu dengan sosok yang berbeda. Mungkin tak sesuai yang kau harapkan. Tapi aku ingin kau mengerti, inilah aku! Seperti inilah aku! Apa adanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa pernah lagi harus memikirkan banyak perasaan yang mesti kujaga. Ingin berdiri tegar meskipun tanpamu. Ingin memperbaiki segalanya. Bagaimanapun aku tak ingin membuatmu malu, karena pernah menyayangiku. Dan dari semuanya, tak bisa kupungkiri bahwa ini semua karenamu, Bie. Kau memberi arti. Terlalu berharga untukku. Hingga aku tak tau... bagaimana membalas semua yang sudah kau lakukan untukku. Hanya satu yang tak akan pernah berubah, Bie... Dan aku ingat, itu adalah janjiku dulu. Aku sayang kamu. Selamanya. Tak akan pernah meninggalkanmu. Melupakanmu. Seperti juga saat terakhir kita bersama, masih selalu berharap, kebahagiaan mendampingi langkahmu. Mewarnai hidupmu. Meski bukan aku lagi yang melakukannya. Aku ingin selalu melihat binar dimatamu. Ingin mimpimu terwujud. Impian impian indah yang pernah kudengar. Aku ingin sekali bisa membuat harapanmu terkabul. Cuma itu yang tersisa kini, Bie...
Melihatmu bahagia...




">Link

Thursday, February 01, 2007

aches


A stranger came to the door at eve,
And he spoke the bridegroom fair.
He bore a green-white stick in his hand,
And, for all burden, care.
He asked with the eyes more than the lips
For a shelter for the night,
And he turned and looked at the road afar
Without a window light.
The bridegroom came forth into the porch
With, "Let us look at the sky,
And question what of the night to be,
Stranger, you and I.
"The woodbine leaves littered the yard,
The woodbine berries were blue,
Autumn, yes, winter was in the wind;
"Stranger, I wish I knew.
"Within, the bride in the dusk alone Bent over the open fire,
Her face rose-red with the glowing coal
And the thought of the heart's desire.
The bridegroom looked at the weary road,
Yet saw but her within,
And wished her heart in a case of gold
And pinned with a silver pin.
The bridegroom thought it little to give
A dole of bread, a purse,
A heartfelt prayer for the poor of God,
Or for the rich a curse;
But whether or not a man was asked
To mar the love of twoby harboring woe in the bridal house,
The bridegroom wished he knew.


--- DONI ERVIADY <http://kr.f545.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=my_donput@yahoo.co.id&YY=18084&y5beta=yes&y5beta=yes&order=down&sort=date&pos=1&view=a&head=b> wrote:>

SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > SAYANGKU HANYA UNTUK MU> > I LOVE YOU.........I LOVE YOU.............I LOVE> YOU............I LOVE YOU>


">Link

Tuesday, January 09, 2007

OranG $epeRtiKu


Terlalu lama kau tinggalkan aku
Terlalu lama kau biarkan menunggu
Hingga ku terbiasa hidup sendiri
Tanpa kau disini





Apapun alasannya kuterima
Mencoba jadi orang yang setia
Hingga kuterbiasa hidup sendiri
Tanpa kau temani





Apakah saat ini
Aku masih mengharap kau kembali
Biarkan mulai kini
Buang janjimu dan kau bebas pergi





Setidaknya aku sepenuh hati
Walaupun kau tak juga membalasnya
Dan kau kehilangan orang sepertiku
Apakah kau tau






Sudahlah saat ini
Aku tak mengharapkan kau kembali
Biarkan mulai kini
Buang janjimu dan kau bebas pergi










Dan kau sia siakan orang seperti ku...


Labels:

Wednesday, December 13, 2006

Dongengan hasrat



Adakah yang lebih nyeri dari dosa perasaan bersalah?
Yang menjebak disetiap sudut aku didekap
Diatas dan didekap hidup, pada lingkup dunia pengenal manusia
Yang menyala liar pijar membakar lantas terhantar
Sedikit buih sedikit getar, Cuma
Jika segala telah senyap, gulanaku datang pada nyala
Dan perjalananpun tak tentu tuju, walau hasrat tetap
Menapak dan tak pernah sanggup berlupa
Akan gunung dan lembah, akan laut dan rawa rawa
Di kesemuanya :
‘betapa tak berartinya hasrat di depan kodrat’
ah...
menggigil jua aku, Bie...saat daun luruh satu satu!





">Link

Labels:

Nusa tersudut



Seandainya ada nusa disudut...
Yang tersudut di benua ini
Tempat segenap orang menepikan realita
Maka aku akan kesana

Seandainya surga belum pernah dipersiapkan
Sekedar ada lahan datar
Aku pun akan kesana
Asal aku bisa mempecundangi
Tikaman kenyataan

Bagaimana bisa...
Realita mendikte sekeji ini?



">Link

Labels: